Senin, 28 November 2016

Makna Hijrah Dalam Kehidupan


Tiada ucapan yang layak untuk kita sanjungkan kepada Allah, kecuali rasa syukur kita yang amat dalam atas segala nikmat dan karunia yang diberikan oleh Allah kepada kita, sehingga kita masih diberi-Nya kesempatan untuk menikmati hidup dan kehidupan di tahun baru ini, tahun 1434 Hijriah. Semoga dalam menapaki hidup dan kehidupan ini Allah ta’ala akan selalu memberikan kekuatan dan ketabahan kepada kita sehingga kita dapat memperoleh rida-Nya.
Awwal bulan Muharram 1434 Hijriah,sebagai awwal tahun baru islam hari yang teramat mulia , ada baiknya kita melakukan perenungan kembali tentang apa yang telah kita lakukan selama kita menempuh kehidupan ini. Ada baiknya kita mengevaluasi sudah seberapa banyak amal yang telah kita lakukan untuk bekal kehidupan kita di akhirat kelak. Mari kita coba membuat perhitungan sebelum Allah sendiri nanti yang menghitungnya di Yaumul Hisab.
Rasulullah pernah bersabda : Tidak akan bergeser telapak kaki seorang hamba pada hari kiamat kelak, sehingga ia dapat mempertanggung jawabkan empat hal : pertama : tentang umur-nya, untuk apa dihabiskan, kedua : tentang ilmunya, apa yang telah dia sumbangsihkan (dihasilkannya), ketiga : tentang hartanya, bagaimana ia memper-olehnya dan untuk apa saja ia pergunakan, dan keempat : fisiknya (jasmaninya), dalam hal apa ia kurbankan.
Sabda Rasulullah tersebut di atas memberikan petunjuk kepada kita, untuk mengisi hidup dan kehidupan ini, maka segala potensi yang kita miliki haruslah kita daya gunakan semaksimal mungkin ke arah hal-hal yang positif sehingga menjadi amal saleh, yang Allah rida dengannya dan juga memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi kehidupan masyarakat, termasuk untuk dirinya sendiri. Sebaik-baik manusia adalah manusia yang mampu memberikan nilai tambah atau memberikan manfaat buat orang lain. خيركم أنفعهم للناس
Setiap pekerjaan yang dilakukan oleh seseorang pasti mempunyai motivasi atau niat. Hal ini pernah ditegaskan oleh Rasulullah, ketika seorang sahabatnya ikut berhijrah dari Makkah ke Madinah. Beliau berkata : setiap pekerjaan harus­lah di dahului dengan niat, maka siapa saja yang hijrah didorong oleh niat semata-mata karena Allah, hijrahnya akan dinilai demikian. Akan tetapi siapa saja yang niatnya hanya didorong oleh keinginan mendapatkan keuntungan duniawi atau karena ingin mengawini seseorang, maka hijrahnya juga dini­lai sesuai dengan tujuan tersebut.
Ketika Nabi berhijrah bersama-sama sahabatnya, motivasi utama yang memicu dan mendorong mereka adalah karena ingin memperoleh ridla Allah. Menjelang hijrah kaum muslimin berada pada posisi yang lemah dan teraniaya, namun karena keyakinan yang amat dalam bahwa Allah akan menolong dan membantu mereka, maka tak pernah sirna dalam sanubari mereka bahwa pertolongan Allah pasti akan datang, dan mareka pasti akan memperoleh kemenangan. Hal ini disebabkan oleh karena tebalnya iman yang mereka miliki. Berhijrah bagi mereka adalah sama halnya dengan berpindah dari suatu keadaan kepada keadaan yang lebih baik. Masa depan yang gemilang terbayang-bayang di rongga mata, kehidupan yang lebih baik, damai dan sejahtera telah menunggu mereka.
Jadi hijrah tersebut dapat kita maknai dengan “berpin­dah dari suatu keadaan/situasi kepada keadaan/situasi yang lebih baik, situasi yang lebih menguntungkan, situasi yang lebih kondusif untuk memaksimalisir pendayagunaan segala potensi diri yang kita miliki, mendayagunakan umur yang masih tersisa, mendayagunakan harta yang kita miliki, menda­yagunakan ilmu serta ketrampilan yang kita kuasai, sehingga hidup dan kehidupan kita lebih bermakna dari hari-hari sebelumnya”.
Allah berfirman :
Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad dijalan Allah baik dengan harta dan jiwa mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah, dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan.
Hijrah Rasulullah saw. telah berlalu empat belas abad yang lalu, namun dari hijrah dan celah-celah peristiwanya, banyak sekali pelajaran yang dapat kita petik, beberapa diantaranya adalah:
Ketika Rasulullah menyampaikan kepada Abu Bakar bahwa Allah swt memerintahkannya untuk berhijrah, dan sekaligus Rasulullah mengajak sahabatnya itu untuk berhijrah bersama, Abu Bakar menangis karena kegirangan. Ia bergegas untuk membeli dua ekor unta dan menyerahkannya kepada Rasulullah untuk memilih yang disukainya. Terjadilah dialog antara keduanya : Kata Abu Bakar : aku tidak akan mengendarai unta yang bukan milikku, unta ini kuserahkan untukmu. Jawab Rasulullah, baiklah, tapi aku akan membayar harganya. Abu Bakar tetap menginginkan agar Rasulullah mau mener­ima unta pemberiannya itu sebagai hadiah, namun nabi tetap menolaknya, akhirnya Abu Bakar menyetujui sikap dan pendir­ian nabi. Tentu timbul pertanyaan, mengapa nabi tetap ngotot untuk membelinya, bukankan Abu Bakar adalah sahabat beliau, dan bukankah nabi sebelum, bahkan sesudahnya sering menerima hadiah dan pemberian dari Abu Bakar? Disini terdapat suatu pelajaran yang sangat berharga.
Rasulullah saw. ingin mengajarkan kepada kita bahwa untuk mencapai suatu usaha besar, dibutuhkan pengorbanan maksimal dari setiap orang. Beliau bermaksud berhijrah dengan segala daya dan potensi yang dimilikinya, tenaga, pikiran dan materi bahkan dengan jiwa dan raga beliau. Dengan membayar harga unta itu nabi mengajarkan kepada Abu Bakar dan kepada kita bahwa dalam mengabdi kepada Allah, janganlah mengabaikan segala kemampuan dan potensi yang kita miliki. Allah mengingatkan Sesungguhnya kepada Tuhanlah tempat kembali (QS 96: 8).
Peristiwa lain yang menarik dari hijrah Rasulullah adalah, ketika beliau akan beranghkat ke Madinah beliau memesan keponakannya Ali bin Abi Thalib agar tidur di tempat pembaringan beliau, dan berselimut dengan selimut beliau. Hal demikian beliau lakukan adalah untuk mengelabui kaum musyrik Makkah. Ali pada hakikatnya mempertaruhkan jiwa raganya demi membela agama Allah. Disini sekali lagi kita hendak memetik pelajaran dari peristiwa ini, apa sebenarnya arti hidup ini menurut pandangan agama ?
Hidup bukanlah hanya sekedar menarik dan menghembuskan nafas. Sebab Al-Quran memberikan i’tibar kepada kita. Ada orang-orang yang terkubur, tetapi Al-Quran menyebutnya orang yang hidup dan mendapat rezeki QS 3 : 169. Yang artinya: “Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati, bahkan orang itu hidup di sisi tuhannya dengan mendapat rezki” Ali Imran 169.
Demikian juga sebaliknya, ada orang-orang yang menarik dan menghem­buskan nafasnya, namun dianggap sebagai orang-orang mati
“Tidaklah sama orang-orang yang hidup dan orang-orang yang mati, sesungguhnya Allah memberikan pendengaran kepada siapa yang di kehendakiNya QS 35:22.
Hidup dalam pandangan agama adalah kesinambungan antara dunia dan akhirat dalam keadaan berbahagia, kesinambungan yang melampaui usia dunia ini. Sehingga dengan demikian, tiadalah akan bermakna hidup seseorang manakala ia tidak menyadari bahwa ia mempunyai kewajiban-kewajiban yang lebih besar dan yang melebihi kewajiban-kewajibannya hari ini. Setiap orang beriman wajib mempercayai dan menyadari bahwa di samping wujudnya masa kini, masih ada lagi wujud yang lebih kekal dan dapat menjadi lebih jauh dan lebih indah daripada kehidupan dunia ini.
Firman Allah swt.
Dan orang-orang yang berhijrah karena Allah sesudah mereka dianiaya, pasti Kami akan memberikan tempat yang bagus kepada mereka di dunia. Dan sesungguhnya pahala di akhirat adalah lebih besar kalau mereka mengetahui.
. Oleh sebab itu marilah segala potensi dan kemampuan yang kita miliki kita dayagunakan semaksimal mungkin, agar hidup dan kehidupan kita akan lebih bermakna, dan kita di akhirat kelak akan beroleh kebahagiaan yang lebih hakiki, dan lebih permanen. Kita berdoa kepada Allah kiranya Allah akan memberikan kekuatan kepada kita untuk tetap beramal dan mengabdi kepada-Nya, sehingga kita akan memperoleh Rida-Nya.Wallahu ‘alamu bishawab.
                                                    SYARAT HIJRAH


Khalifah Umar RA memang seorang pemimpin brilian. Pilihannya menjadikan momentum hijrah sebagai awal penanggalan kalender Hijriyah patut diapresiasi sebagai ide cerdas dan orisinal. Ini berkah buat sejarah umat Islam.

Sebagaimana disebutkan Ismail al-Faruqi dalam bukunya, Hijrah Modern, peristiwa hijrah merupakan titik balik dari sejarah dunia, langkah awal paling menentukan dalam menata masyarakat Muslim yang berperadaban. Bagaimana umat Islam yang sebelumnya menjadi umat yang terintimidasi, mustadh'afin mampu keluar dari kesulitannya dan dalam tempo yang singkat menjelma menjadi sebuah kekuatan baru.

Dalam konteks ini, Umar berhasil melanggengkan volume progres hijrah tersebut dalam putaran waktu. Bahkan, dia berhasil mewariskan aura dan spirit hijrah itu kepada generasi berikutnya di sepanjang masa. Hampir di setiap pergantian tahun Hijriyah, kita diingatkan dengan sejarah hijrah yang memberdayakan itu.

Sementara, sisi orisinalitas idenya terletak pada kekhasan mengambil momentum. Umar RA tidak mau terjebak dalam budaya ikut-ikutan, meniru (tasyabbuh) dengan umat lain. Karena itu, tawaran untuk menjadikan awal penanggalan dimulai dari kelahiran nabi, bi'tsah, atau Isra Mi'raj tidak dipilihnya. Sebabnya, dikhawatirkan adanya kultus dan budaya pengagungan hari. Selain itu, dalam pandangannya, semua peristiwa itu hanya sekadar memberi nuansa psikologis atau sebatas bernostalgia.

Berbeda dengan momentum hijrah yang kaya secara filosofis, sarat makna, dan nilai. Dalam hijrah terdapat aksi ('amal), perjuangan (jihad), pengorbanan (tadhiyyah), pergerakan (harakah), harapan (amal), dan masa depan (mustaqbal).

Jika dicermati, anasir-anasir tersebut merupakan unsur-unsur penting bagi sebuah keberdayaan. Untuk menjadi berdaya dan kuat, paling tidak ada lima syarat harus terpenuhi. Dan, kelima syarat itu berkumpul dalam sebuah masterpiece kebangkitan, bernama hijrah.

Pertama, keberdayaan membutuhkan aksi nyata, bukan sekadar angan-angan. Dan, berbuat dalam kondisi keterpurukan menjadi modal besar yang membawa pada keberdayaan. Setidaknya, itulah yang bisa kita rekam dari aksi hijrah Rasulullah SAW dan para sahabat dari Makkah ke Madinah. Hijrah mereka ibaratnya adalah terobosan besar bagi sebuah perubahan dari lemah menjadi kuat dan berdaya. Sebab, Allah SWT akan membukakan pintu peluang yang banyak menuju keberdayaan. (QS an-Nisa: 100).

Kedua, untuk menjadi berdaya butuh perjuangan. Dan, hijrah adalah sebuah perjuangan. Tengoklah perjalanan hijrah Rasulullah SAW yang penuh dengan mara bahaya. Perjalanan yang mempertaruhkan jiwa raga. Namun, itulah harga yang harus dibayar untuk sebuah keberdayaan yang diimpikannya di Madinah. Dalam Alquran, Allah SWT menggandengkan hijrah dengan jihad secara beriringan di banyak ayat, salah satunya surah al-Baqarah ayat 218.

Ketiga, keberdayaan juga menuntut adanya pengorbanan. Mereka kaum Muhajirin telah berkorban banyak demi hijrah ini. Mengorbankan harta, keluarga, kerabat, cinta tanah air, dan sebagainya. Sejarah mencatat bagaimana hijrahnya Shuhaib bin Sinan yang harus menebus dirinya dengan hartanya demi hijrah. Allah pun mengabadikannya dalam Alquran surah al-Baqarah ayat 207.

Keempat, agar berdaya kita harus bergerak. "Fil harakah barakah," dalam bergerak ada keberkahan. Bergerak berarti berusaha, berupaya sebagai wujud dari ikhtiar manusia. Itulah salah satu pelajaran penting dari hijrah Rasulullah SAW, yaitu al-akhdzu bil asbab.

Kelima, keberdayaan muncul dari keyakinan akan harapan dan masa depan gemilang. Inilah kekuatan optimisme dalam hidup. Tidak ada motivasi yang menggerakkan keberdayaan secara luar biasa selain himmah (tekad) dan cita-cita yang menggelora.

Hikmah Hijrah :

1. Terjadinya Ledakan Ekonomi. (Economic Boom)
Contohnya Granada, Spanyol. Awalnya Muslim tinggal di daerah utara Spanyol. Tetapi setelah diserang, mereka terpaksa mengungsi ke selatan ke daerah Granada. Granada punya banyak potensi sumber daya alam. Tetapi selama ini tidak ada yang bisa mengelolanya. Saat kaum muslimin datang ke Granada. Sumber daya manusia yang berkualitas bertemu dengan sumber daya alam yang berlimpah, membuat Granada menjadi kota yang jaya dan makmur. Penduduk kota ini meledak hingga 2 juta jiwa. 
Alhambra, Istana Granada
Contoh lain seperti Jepang. Saat Kaisar Cina merasa ketakutan akan adanya kudeta, beliau memerintahkan agar semua orang pintar di Cina dikumpulkan dan kemudian dibuang ke pulau Jepang. Sumber Daya Manusia yang berkualitas bersatu di satu daerah kecil dengan sumber daya alam yang terbatas pun bisa berkembang menjadi negara yang maju dan kuat.
Amerika. Dahulu, benua Amerika hanyalah daratan luas yang tidak produktif di tangan suku Indian. Tetapi setelah datangnya Christopher Columbus dan orang Eropa dalam jumlah besar datang ke daratan kosong ini, Sekarang kita bisa lihat mereka menjadi negara adidaya. Bahkan lebih besar dan kuat dibandingkan dari tanah asal mereka.
 Hijrahnya orang-orang pintar muslim dari dunia Arab menuju ke Eropa. Membuat Eropa menjadi maju sedangkan tanah kelahiran mereka kehilangan sumber daya manusia berkualitas.
Bangsa Cina yang dibawa oleh Laksamana Cheng Ho (Zheng He) untuk keliling dunia dan menetap diberbagai tempat di dunia termasuk Indonesia. Secara jumlah mereka minoritas, tetapi berkat kerja keras, mereka pada umumnya makmur secara ekonomi karena bisa memanfaatkan sumber daya yang ada di tempat mereka menetap. Tidak hanya di Indonesia, tetapi di seluruh dunia. Bahkan di tiap kota besar ada Chinatown yang biasa menjadi salah satu tujuan wisata turis.
Imbalan bagi mereka yang hijrah :
Dan orang-orang yang berhijrah karena Allah sesudah mereka dianiaya, pasti Kami akan memberikan tempat yang bagus kepada mereka di dunia. Dan sesungguhnya pahala di akhirat adalah lebih besar, kalau mereka mengetahui, (QS 16 :41)
Jika kita lihat para sahabat yang ikut Rasulullah SAW hijrah dari Mekkah ke Madinah, para akhirnya mereka menjadi pemimpin-pemimpin di berbagai daerah, pemimpin pasukan perang, pedagang hebat. Jadi Allah SWT memberikan mereka status yang lebih baik daripada yang mereka miliki di Mekkah. Ini adalah balasan yang mereka dapatkan di dunia. Tetapi Allah SWT berkata di ayat diatas bahwa “balasan di akhirat nanti jauh lebih besar dan lebih baik”.
Khalifa Umar Bin Khattab saat memberikan uang atau hadiah pada Muhajir (orang yang berhijrah), ia selalu berkata “Ini adalah hadiah dari Allah SWT di dunia ini, tapi yang Allah SWT akan berikan untuk mu di dunia akhirat jauh lebih besar”. Para ahli setuju bahwa jika kita meninggalkan sesuatu karena Allah SWT, maka Allah SWT akan memberikan sesuatu yang lebih baik. Pesan ini dapat dilihat di Surat An Nahl ayat 110 :
Dan sesungguhnya Tuhanmu (pelindung) bagi orang-orang yang berhijrah sesudah menderita cobaan, kemudian mereka berjihad dan sabar; sesungguhnya Tuhanmu sesudah itu benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS 16 :110)
Para Sahabat, Indonesia adalah negara yang memiliki sumber daya alam yang luar biasa. Alhamdulillah saya 2 tahun terakhir ini berkesempatan untuk mengunjungi banyak daerah di pelosok tanah air. Potensi daerah belum berkembang karena potensi ini belum ketemu dengan sumber daya manusia yang berkualitas. Banyak diantara kita merasa bahwa hidup di kota besar jauh lebih enak dan nyaman. Karena banyaknya fasilitas, dan gaji yang tinggi. Potensi daerah belum berkembang karena potensi ini belum ketemu dengan sumber daya manusia yang berkualitas. Kita datang ke Kota besar untuk menimba ilmu & pengalaman kerja. Suatu hari nanti mari kita kembali ke daerah agar potensi daerah bisa terkelola seperti Granada.
PENGERTIAN HIJRAH BERDASARKAN HADITS RASULULLAH

Secara bahasa term hijrah berasal dari akar kata هـ ج ر yang mengandung dua arti:
  1. memutuskan, misalnya seseorang hijrah meninggalkan kampung halamannya menuju kampung lainnya. Ini berarti ia memutuskan hubungan antara dirinya dengan kampungnya.
  2. menunjukkan pada arti kerasnya sesuatu الهجر الهجير الهاجرة berarti tengah hari di waktu panas sangat menyengat (keras).
Imam Al Asfahanii cenderung pada arti pertama. Menurutnya, hijrah berarti berpisahnya seseorang dengan yang lain, baik berpisah secara badaniah, lisan, atau dengan hati. Meninggalkan suatu daerah berarti berpisah secara fisik (badan). Membenci seseorang berarti memisahkan dirinya dengan orang lain secara psikhis (qalbiyah), dan secara lisan berarti tidak mau berbicara dengan orang lain.
Ibn Faris dan Al Asfahani dalam memaknai terma hijrah hanya semata-mata melihat dari sisi bahasa saja tanpa mengaitkan dengan aspek lainnya. Dengan berdasar pada pengertian bahasa ini, maka orang yang tidak saling berbicara (saling membenci) adalah termasuk hijrah. Padahal sikap seperti ini adalah terlarang dalam ajaran Islam terutama lebih dari waktu tiga hari.
Berbeda dengan Al Jurjani, menurutnya hijrah adalah meninggalkan tanah air yang dibawah kekuasaan orang-orang kafir menuju ke daerah Islam. Pengertian hijrah ini sudah mencakup pada pengertian istilah, karena ia sudah mengaitkan dan merujuk pada peristiwa hijrah yang pernah terjadi pada diri Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam beserta para sahabatnya.
Berikut ini kutipan hadis Nabi mengenai hijrah yang bersumber dari Umar bin Khattab yang mendengar langsung dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam .
[arabtext]إنما الاعمال بالنيات و إنما لكل امرىء ما نوى فمن كانت هجرته إلى الله و رسوله فهجرته إل الله و رسوله فمن كانت هجرته إلى دنيا يصيبها أو امرأة ينكحها فهجرته إلى ما هاجر إليه [/arabtext]
“Segala amal itu tergantung niatnya, dan setiap orang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Maka barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu kepada Allah dan Rasul-Nya. Barang siapa yang hijrahnya itu Karena kesenangan dunia atau karena seorang wanita yang akan dikawininya, maka hijrahnya itu kepada apa yang ditujunya.” (Bukhari no. 1 dan Muslim no. 1907)
Guna memahami makna terma hijrah dalam hadits di atas, harus kembali memperhatikan pada latar belakang historis disabdakannya hadis tersebut. Al-Zubair bin Bakkar meriwayatkan bahwa hadis tersebut disabdakan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ketika baru saja tiba di Madinah bersama para sahabat. Ternyata dalam rombongannya itu terdapat seorang yang ikut hijrah hanya dengan harapan ingin melamar seorang wanita yang juga ikut berhijrah. Nabi mengetahui hal ini, lalu beliau naik ke atas mimbar dan menyabdakan hadis tersebut. Zainuddin al-Hambali menyebutkan bahwa seorang wanita yang ingin dilamar itu bernama Ummu Qais. Riwayat ini dinilai oleh Yahya Ismail Ahmad sebagai riwayat yang dhaif.
Dengan demikian, hijrah yang dimaknakan sebagai perpindahan dari suatu daerah menuju ke daerah lain tidak hanya sekedar pindah, tetapi harus mempunyai tujuan yang jelas dan didasari oleh motivasi jiwa yang ikhlas. Dilihat dari sisi inilah maka transmigrasi penduduk di Indonesia, misalnya transmigrasi dari Pulau Jawa ke Sulawesi atau ke Sumatera, tidak dapat dikategoriklan sebagai hijrah yang dikehendaki dalam perspektif Islam ini, walaupun secara bahasa sudah termasuk karena perpindahan mereka meninggalkan kampung halaman mereka.
Sejarah mencatatnya bahwa hijrah yang tersebut oleh hadis di atas adalah hijrah yang kedua dalam Islam. Ibn Qutaibah melengkapi informasi hijrah ini dengan mengatakan bahwa peristiwa hijrah (tibanya di Madinah) ini terjadi pada tangga 12 Rabi’ al-Awal ketika Nabi berusia 53 tahun atau tahun ke-13 setelah dilantik menjadi Rasul. Kalau ada hijrah kedua berarti ada hijrah yang pertama. Hijrah yang pertamadalam Islam adalah hijrahnya para sahabat ke Habasyah (Ethiopia). Informasi ini terekam dalam riwayat yang bersumber dari Aisyah Radhiyallahu ‘anha.
[arabtext]  عن عائشة قالت: هاجر إلى الحبشة رجال من المسلمين و تجهز أبو بكر مهاجرا فقال النبى صلى الله عليه و سلم على رسلك فانى أرجوا أن يوءذن لى[/arabtext]
Kata Ahmad Syalabiy hijrah ke Habsyah ini terjadi pada tahun ke- 5 setelah Muhammad dilantik menjadi Nabi atau ketika Nabi saw berusia 45 tahun. Jadi, hijrah dalam artian pindahnya umat Islam (para sahabat) dari suatu daerah ke daerah lain itu sudah terjadi 2 kali, pertama hijrahnya ke Habasyah pada tahun ke-5 bi’tsah Nabi, dan yang kedua hijrah dari Makkah ke Madinah pada tahun ke-13 bi’tsah Nabi.
Hal ini dipertegas dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Ahmad bin Hambal yang bersumber dari Abu Musa.
[arabtext] فقال النبي صلى الله عليه و سلم : بل لكم الهجرة مرتين هجرتكم إلى المدينة و هجرتكم إلى الحبشة[/arabtext]
Hijrah yang dimaksud di atas adalah hijrah yang sudah berlalu peristiwanya. Ada lagi hijrah yang saat ini belum terjadi tetapi suatu saat nanti di akhir zaman akan ada hijrah ke daerah Bait al-Maqdis di Palestina atau dalam skala yang lebih besar lagi yaitu ke daerah Syam. Hal ini didasarkan pada informasi dari sebuah hadis yang diriwayatkan Abu Daud yang bersumber dari sahabat Abdullah bin Umar.
[arabtext]ستكون هجرة بعد هجرة فخيار أهل الارض ألزمهم مهاجر إبراهيم و يبقى فى الارض شرار أهلها تلفظهم أرضوهم تقذرهم نفس الله و تحشرهم النارمع القردة و الخنازير[/arabtext]
Dalam Fath al-Bariy, hal. 40 al-‘Asqalaniy (852 H/1449 M) mengutip pendapat sebagian ulama bahwa ada hijrah yang ketiga, yaitu hijrah ke Syam pada akhir zaman nanti di saat fitnah sudah merambah dan merajalela kemana-mana (zhuhur al-fitan).

 Dalil tentang hijrah

 

 Ayat-ayat Hijrah

Berikut ini adalah ayat-ayat di dalam Al Qur’an yang bertema hijrah ataupun turun berkaitan dengan peristiwa tersebut. Semoga kita bisa mengambil manfaat, hikmah dan pelajaran dari mereka.
وَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ ۚ لَوْ أَنفَقْتَ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا مَّا أَلَّفْتَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ أَلَّفَ بَيْنَهُمْ ۚ إِنَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ
dan Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman) . Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Gagah lagi Maha Bijaksana. [Al Anfaal (8): 63]
Penduduk Madinah yang terdiri dari suku Aus dan Khazraj selalu bermusuhan sebelum Nabi Muhammad s.a.w hijrah ke Madinah. Setelah mereka masuk Islam, permusuhan itu hilang.
وَإِن كَادُوا لَيَسْتَفِزُّونَكَ مِنَ الْأَرْضِ لِيُخْرِجُوكَ مِنْهَا ۖ وَإِذًا لَّا يَلْبَثُونَ خِلَافَكَ إِلَّا قَلِيلًا
Dan sesungguhnya benar-benar mereka hampir membuatmu gelisah di negeri (Mekah) untuk mengusirmu daripadanya dan kalau terjadi demikian, niscaya sepeninggalmu mereka tidak tinggal, melainkan sebentar saja. [Al Israa’ (17): 76]
Maksudnya: kalau sampai terjadi Nabi Muhammad s.a.w. diusir, oleh penduduk Mekah, niscaya mereka tidak akan lama hidup di dunia, dan Allah segera akan membinasakan mereka. Hijrah Nabi Muhammad s.a.w. ke Madinah bukan karena pengusiran kaum Quraisy, melainkan semata-mata karena perintah Allah.
إِنَّ الَّذِينَ تَوَفَّاهُمُ الْمَلَائِكَةُ ظَالِمِي أَنفُسِهِمْ قَالُوا فِيمَ كُنتُمْ ۖ قَالُوا كُنَّا مُسْتَضْعَفِينَ فِي الْأَرْضِ ۚ قَالُوا أَلَمْ تَكُنْ أَرْضُ اللَّهِ وَاسِعَةً فَتُهَاجِرُوا فِيهَا ۚ فَأُولَٰئِكَ مَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ ۖوَسَاءَتْ مَصِيرًا
Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) malaikat bertanya : “Dalam keadaan bagaimana kamu ini?.” Mereka menjawab: “Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri (Mekah).” Para malaikat berkata: “Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?.” Orang-orang itu tempatnya neraka Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali. [An Nisaa’ (4): 97]
Yang dimaksud dengan orang yang menganiaya diri sendiri di sini, ialah orang-orang muslimin Mekah yang tidak mau hijrah bersama Nabi sedangkan mereka sanggup. Mereka ditindas dan dipaksa oleh orang-orang kafir ikut bersama mereka pergi ke perang Badar; akhirnya di antara mereka ada yang terbunuh dalam peperangan itu.
وَمَن يُهَاجِرْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يَجِدْ فِي الْأَرْضِ مُرَاغَمًا كَثِيرًا وَسَعَةً ۚ وَمَن يَخْرُجْ مِن بَيْتِهِ مُهَاجِرًا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ يُدْرِكْهُ الْمَوْتُ فَقَدْ وَقَعَ أَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ ۗ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَّحِيمًا
Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezki yang banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [An Nisaa’ (4): 100]

Berhijrah menuju Cahaya Allah

الر ۚ كِتَابٌ أَنزَلْنَاهُ إِلَيْكَ لِتُخْرِجَ النَّاسَ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِ رَبِّهِمْ إِلَىٰ صِرَاطِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ
(Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji. [Ibrahim (14): 1]
Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah syaitan, yang mengeluarkan mereka daripada cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. [Al Baqarah (2): 257]
Dialah yang memberi rahmat kepadamu dan malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu), supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman. [Al Ahzab (33): 43]
(Dan mengutus) seorang Rasul yang membacakan kepadamu ayat-ayat Allah yang menerangkan (bermacam-macam hukum) supaya Dia mengeluarkan orang-orang yang beriman dan beramal saleh dari kegelapan kepada cahaya. [Ath Thalaq (65): 11]